Mengapa Gender mesti dipermasalahkan?

Senin, 20 Februari 2012

Sampai saat ini peningkatan pemahaman gender di masyarakat belum cukup untuk mempengaruhi kondisi sosial budaya yang masih memarginalkan perempuan, sehingga timbul suatu pertanyaan “ Mengapa Gender mesti dipermasalahkan?”

Perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan atau yang lebih tinggi dikenal dengan perbedaan gender yang terjadi di masyarakat tidak menjadi suatu permasalahan sepanjang perbedaan tersebut tidak mengakibatkan diskriminasi atau ketidakadilan.

Ukuran  sederhana yang dapat digunakan untuk mengukur apakah perbedaan gender itu menimbulkan ketidakadilan atau tidak, dapat  dilihat dari kejadian marginalisasi di tempat kerja, rumah tangga, masyarakat  atau kultur.  Sumber marginalisasi bisa berasal dari keyakinan, tradisi dan kebiasaan. Terjadinya penomorduaan (subordinasi) yang berkaitan dengan anggapan bahwa perempuan itu irrasional atau emosional sehingga perempuan dianggap tidak bisa tampil memimpin. Dalam keluarga yang terbatas secara ekonomi, masih ada yang memutuskan anak laki-laki mendapat prioritas utama untuk disekolahkan. Akibatnya, kondisi ini memunculkan sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Terjadinya pencitraan yang berawal dari asumsi bahwa perempuan dasarnya biasa bekerja dalam rumah tangga, sehingga setiap ada kasus pelecehan maupun kekerasan, selalu dikaitkan dengan pencitraan  ini. Bahkan jika ada perkosaan yang dialami oleh perempuan, masyarakat cenderung menyalahkan korbannya. Masyarakat beranggapan bahwa tugas utama perempuan adalah mengurus rumah tangga.
     Begitu pula halnya dengan tindak kekerasan terhadap fisik maupun  mental seseorang. Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminism dan laki-laki maskulin, karakter ini kemudian mewujud dalam cirri-ciri psicologis, seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani sebaliknya perempuan dianggap lembut, lemah, dan penurut. Sebenernya tidak masalah dengan pembedaan itu tapi anggapan perempuan lemah itu diartikan sebagai alas an untuk diperlakukan semena-mena, berupa tindakan kekerasan.
     Bentuk yang bisa dikategorikan kekerasan gender antara lain : (a) pemerkosaan terhadap perempuan, termasuk perkosaan dalam perkawinan; (b) tindakan pemukulan dan serangan fisik; (c) penyiksaan yang mengarah pada organ alat kelamin; (d) pelacuran, merupakan bentuk kekerasan yang diselenggarakan oleh suatu mekanisme ekonomi yang merugikan perempuan; (e) pornografi, yang termasuk kekerasan non fisik, yakni pelecehan terhadap kaum perempuan, memengang atau menyentuh bagian tertentu dari tubuh perempuan tanpa kerelaan si pemilik tubuh; (f) pelecehan seksual yang bisa dikategorikan ke dalam beberapa bentuk, yakni: menyampaikan lelucon jorok dan vulgar.
     Saat ini walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja di wilayah publik , namum tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domistik. Pekerjaan domestik rumah tangga dianggap lebih cocok bagi perempuan, dinilai lebih rendah dan dikategorikan bukan produktif dibandingkan dengan pekerjaan lelaki yang berada di wilayah publik sehingga tidak diperhitungkan dalam statistik ekonomi. Keadaan menjadi berat bila perempuan juga bekerja di wilayah publik karena mereka memikul beban kerja ganda. Di pihak lain, kaum laki-laki tidak diwajibkan secara kultural untuk menekuni berbagai pekerjaan domestik sehingga mereka hanya mempunyai beban tunggal.
     Telah diketahui, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, telah memisahkan dan memilah-milah peran-peran gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domistik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan public atau produksi. Sepanjang penghargaan sosial terhadap peran domistik dan reproduksi, sepanjang itu pula ketidakadilan masih berlangsung. Dengan demikian maka gender menjadi suatu permasalahan.